Jumat, 01 Juli 2016

Kawasan Konservasi Arjuno Lalijiwo

Bias Cahya Islami (21312452)
4tb03
  
Arjuno Lalijiwo













Kawasan konservasi Arjuno Lalijiwo adalah daerah administratif tempat Gunung Arjuno berada, dan berada di tiga kawasa kabupaten, yaitu Malang, Pasuruan dan Mojokerto. Kawasan konservasi cagar alam Arjuno Lalijiwo berada di bawah Balai Konservadi Sumber Daya Alam Jatim II, yang dibentuk untuk tujuan penelitian, pariwisata dan ilmu pengetahuan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah, konservasi ini ditetapkan untuk tujuan melindungi segala kekayaan yang ada di kawasan Arjuno Lalijiwo.

Kawasan Arjuno Lalijiwo memiliki luas 4960 hektar, meliputi gunung Welirang, Gunung Arjuno, Gunung Kembar I dan II. Kawasan Arjuno Lalijiwo memiliki vegetasi hutan tropika, dimana terdapat banyak tumbuhan seperti pinus, cemara, wadang dan triwulan tumbuh di sini. Sedangkan untuk fauna, kawasan ini berada di garis Wallace, yang termasuk dalam zona fauna Asia seperti babi hutan, kijang, elang Jawa dan masih banyak lagi.
Penetapan Sebagai Kawasan Konservasi
Arjuno Lalijiwo ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan SK Mentan Nomer: 250/Kpts/Um/5/1972. Kawasan Hutan Arjuno Lalijiwo ditetapkan sebagai kawasan Taman Hutan Rakyat Raden Soerjo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 1128/Kpts- II/1992 tanggal 19 September 1992 dengan luas 25.000 Ha. Sedangkan pembangunannya ditetapkan berdasarkan keputusan Presiden No. 29 Tahun 1992 tanggal 20 Juni 1992. Kawasan konservasi Arjuno Lalijiwo adalah daerah administratif tempat Gunung Arjuno berada, dan berada di tiga kabupaten, yaitu Malang, Pasuruan dan Mojokerto. Kawasan konservasi Cagar Alam Arjuno Lalijiwo berada di bawah Balai Konservadi Sumber Daya Alam Jatim II, yang dibentuk untuk tujuan penelitian, pariwisata dan ilmu pengetahuan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah, konservasi ini ditetapkan untuk tujuan melindungi segala kekayaan yang ada di kawasan Arjuno Lalijiwo.
Pencapaian
Untuk menuju Gunung Arjuno Welirang, kita dapat melalui beberapa jalur dari Kota Malang, di antaranya yaitu dari Batu dan Lawang. Bisa juga dengan melalui rute Tretes di Pasuruan. Untuk menuju Gunung Arjuno yang paling menantang adalah lewat jalur Kota Batu karena jarang dirambah pendaki sehingga masih terkesan alami. Dari Malang menuju Batu Anda bisa naik angkutan dari Terminal Landungsari atau menyarternya dengan ongkos Rp. 200.000 per mobil angkutan. Saat ini banyak provider petualangan yang menawarkan jelajah alam menuju Arjuno. Di Kota Batu juga sudah ada kelompok pendaki lokal yang menawarkan jasa guiding maupun porter. Salah satu provider menawarkan paket ini untuk dua orang Rp 1.225.000,-/orang, untuk empat orang Rp 710.000,-/orang, dan untuk enam orang Rp 530.000,-/orang.
Dari Kota Batu pendakian Arjuno diawali dari Dusun Junggo, Desa Tulungrejo. Kebanyakan pendaki memilih titik awal dari Pura Arjuna Giri Luhur yang indah. Hamparan perkebunan apel, strawberry, dan berbagai sayuran ada di kanan kiri di kawasan tersebut. Dari pusat Kota Batu, Anda bisa menyewa mikrolet agar bisa diantarkan ke pura tersebut. Jalur menuju pura itu melewati sebuah pabrik tua yang misterius. Saat ini, Pemkot Batu telah memuluskan jalur itu dengan aspal sehingga tidak perlu kendaraan offroad untuk tiba di pura. Jika beruntung, para pendaki akan mendapati sejumlah umat Hindu yang tengah beribadah di pura tersebut. Jalur ini sebenarnya sudah dikenal pendaki bahkan dari luar negeri. Tidak sedikit pendaki dari Malaysia dan Singapura yang menempuh jalur Junggo. Pendakian dari titik ini membutuhkan waktu sekitar tujuh jam untuk tiba di puncak Arjuno.
Masyarakat setempat menganggap bahwa gunung tersebut masih mistis, terutama memasuki kawasan hutan Lalijiwo (dari bahasa Jawa, lali: lupa, jiwo: jiwa). Mitosnya mengatakan bahwa kawasan ini adalah pasar setannya Gunung Arjuno. Lebih baik dihormati saja mitos setempat, agar selamat sampai ke puncak Arjuno. Lalijiwo sendiri melingkar di seluruh pinggang Gunung Arjuno. Selepas Lalijiwo, maka jalur akan menembus dua puncak kecil. Selepas itu, tibalah di puncak Arjuno atau kerap disebut puncak Ogal-agil. Di kawasan yang dipenuhi berupa susunan batu-batu besar, sejumlah edelweis liar tampak tegar menghadap panorama. Dari sini kita dapat menikmati panorama yang sangat indah, dan pada malam hari kita dapat menikmati kerlap-kerlip lampu kota Surabaya, Malang, Batu dan Pasuruan. Angin di puncak sangat kencang dan suhunya antara 5 –10 derajat celcius.
Dari situ biasanya pendaki akan turun menuju ke dekat Gunung Kembar I, melewati Lembah Kijang yang terkenal kemudian ke arah Gunung Welirang. Yang menarik di Arjuno sebenarnya adalah keberadaan situs purbakala. Terdapat sekitar 52 pusat purbakala di lereng Arjuno, di antaranya Goa Onto Boego, Komplek Tampuono, Makam Eyang Abiyoso, Eyang Sekutrem, Eyang Madrem, Goa Nogogini, dan Sendang Dewi Kunti. Bahkan ada juga Komplek Eyang Semar, Mahkutoromo, Sepilar, dan Komplek Candi Jawadipa. Pendek kata, segala macam situs di tempat itu memiliki nama pewayangan dalam cerita Mahabharata.
Jika pendakian melewati jalur Cangar, pertama pendaki bisa mulai di gapura Desa Sumberbrantas. Di sini pendaki bisa mengambil air di masjid atau tempat mandi umum di tepi jalan di dekat gapura untuk persediaan di perjalanan. Untuk menuju titik pendakian, kita harus berjalan kaki melewati rumah-rumah penduduk Desa Sumberbrantas. Setelah itu kita melewati hamparan perkebunan sayur yang menghampar di sepanjang perbukitan. Waktu yang diperlukan untuk mencapai perbatasan vegetasi  ini sekitar 1,5-2 jam. Dari jalur ini merupakan batas antara hutan dengan perkebunan di mana untuk mencapainya kita harus menyusuri jalan utama yang ada di perkebunan tersebut.
Dari titik pendakian, jalan yang kita lalui relatif menanjak dengan vegetasi hutan hujan basah yang  cukup lebat. Kita bisa menjumpai  berbagai  macam bunga anggrek yang tumbuh liar di batang pepohonan, tanaman perdu dengan bunga liar, serta arbai hutan yang tumbuh di sepanjang jalan. Selanjutnya akan dijumpai pertigaan, bila  mengambil jalan lurus akan  menuju Gunung Arjuno, sebaliknya bila mengambil jalan ke kiri akan menuju Gunung Welirang. Pendaki bisa mendirikan camp di sini bila telah menjelang sore, karena  tempatnya yang relatif datar dan tertutup. Waktu yang  dibutuhkan untuk bisa sampai di sini sekitar 3-4 jam.
Jika ingin menuju puncak Gunung Welirang terlebih dahulu membutuhkan waktu lebih kurang 4-5 jam. Dari pertigaan ini jalanan yang ditempuh sangat bervariasi. Dimulai dari hutan heterogen yang relatif rimbun, kita akan menyusuri bibir jurang dengan  bunga-bunga edelweis yang tumbuh liar di seberangnya. Sesekali kita akan melihat elang yang terbang melintas di atas perbukitan. Selain itu  hamparan pegunungan akan terlihat di sini. Setelah menyusuri bibiran jurang  kita akan menemui padang ilalang dengan bebatuan yang ada di sekitarnya. Dari sini kita sudah dapat mencium bau belerang yang terbawa oleh angin. Jika dari puncak Welirang menuju puncak Arjuno akan menjumpai hutan heterogen dan padang rumput. Setelah menempuh sekitar sejam perjalanan akan tiba di Pondok Welirang (Welirangan). Dari sini menuju Lembah Kijang dengan keadaan medan datar dan melewati  padang rumput dengan lama perjalanan 15-20 menit. Di Lembah Kijang terdapat sumber air yang cukup bersih airnya dan kita bisa pula mendirikan camp di sini. Dari Lembah Kijang menuju puncak Gunung Arjuno kondisi medan menanjak dengan melewati sabana dan hutan homogen.
Jika melewati jalur Lawang dimulai dari Terminal Arjosari dengan naik angkutan umum LA dan turun di pasar Lawang. Di sini kita bisa menyiapkan perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah itu perjalanan  dilanjutkan dengan mencarter pick up dan turun di kebun teh pintu sebelah utara. Di sini kita bisa langsung  mengurus perijinan dan melanjutkan perjalanan. Apabila kita ingin menikmati pemandangan alam sambil beristirahat, kita bisa melewati pintu sebelah utara, karena dari pintu sebelah utara bisa langsung masuk Agro wisata kebun teh, yang tersedia penginapan serta fasilitas yang relatif lengkap bagi setiap pengunjungnya. Untuk memasuki tempat ini kita harus membayar kontribusi. Dari pos PHPA ke Pondok Seng II lama perjalanan 2 jam, melewati perkebunan teh. Dari Pondok Seng II menuju Gunung Lincing perjalanan ditempuh sekitar 4 jam, melewati padang rumput dan hutan heterogen dengan kondisi medan yang sangat menanjak. Lalu dari Gunung Lincing menuju puncak Gunung Arjuno lama perjalanan sekitar 6-7 jam melewati hutan Lalijiwo, dan padang rumput yang sangat menanjak sebelum sampai ke puncak. Jika dari puncak Arjuno menuju puncak Welirang lama perjalanan sekitar 5 jam dengan kondisi medan menanjak yang berupa susunan bebatuan yang bertingkat-tingkat. Jalur dari puncak Gunung Welirang ke puncak Gunung  Arjuna atau sebaliknya dapat melewati tiga jalur, yaitu: dari Gunung Welirang menembus puncak Gunung Kembar I, Gunung Kembar II  langsung ke puncak Gunung Arjuna; dari Gunung Welirang, lewat pondok Welirangan, lembah Kijang, lembah Bakal, langsung puncak; dari puncak Welirang  menyisir Gunung Kembar I , Gunung Kembar II, langsung ke puncak.


Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar