Jumat, 01 Juli 2016

Kawasan Konservasi Arjuno Lalijiwo

Bias Cahya Islami (21312452)
4tb03
  
Arjuno Lalijiwo













Kawasan konservasi Arjuno Lalijiwo adalah daerah administratif tempat Gunung Arjuno berada, dan berada di tiga kawasa kabupaten, yaitu Malang, Pasuruan dan Mojokerto. Kawasan konservasi cagar alam Arjuno Lalijiwo berada di bawah Balai Konservadi Sumber Daya Alam Jatim II, yang dibentuk untuk tujuan penelitian, pariwisata dan ilmu pengetahuan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah, konservasi ini ditetapkan untuk tujuan melindungi segala kekayaan yang ada di kawasan Arjuno Lalijiwo.

Kawasan Arjuno Lalijiwo memiliki luas 4960 hektar, meliputi gunung Welirang, Gunung Arjuno, Gunung Kembar I dan II. Kawasan Arjuno Lalijiwo memiliki vegetasi hutan tropika, dimana terdapat banyak tumbuhan seperti pinus, cemara, wadang dan triwulan tumbuh di sini. Sedangkan untuk fauna, kawasan ini berada di garis Wallace, yang termasuk dalam zona fauna Asia seperti babi hutan, kijang, elang Jawa dan masih banyak lagi.
Penetapan Sebagai Kawasan Konservasi
Arjuno Lalijiwo ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan SK Mentan Nomer: 250/Kpts/Um/5/1972. Kawasan Hutan Arjuno Lalijiwo ditetapkan sebagai kawasan Taman Hutan Rakyat Raden Soerjo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 1128/Kpts- II/1992 tanggal 19 September 1992 dengan luas 25.000 Ha. Sedangkan pembangunannya ditetapkan berdasarkan keputusan Presiden No. 29 Tahun 1992 tanggal 20 Juni 1992. Kawasan konservasi Arjuno Lalijiwo adalah daerah administratif tempat Gunung Arjuno berada, dan berada di tiga kabupaten, yaitu Malang, Pasuruan dan Mojokerto. Kawasan konservasi Cagar Alam Arjuno Lalijiwo berada di bawah Balai Konservadi Sumber Daya Alam Jatim II, yang dibentuk untuk tujuan penelitian, pariwisata dan ilmu pengetahuan. Hal yang tak kalah pentingnya adalah, konservasi ini ditetapkan untuk tujuan melindungi segala kekayaan yang ada di kawasan Arjuno Lalijiwo.
Pencapaian
Untuk menuju Gunung Arjuno Welirang, kita dapat melalui beberapa jalur dari Kota Malang, di antaranya yaitu dari Batu dan Lawang. Bisa juga dengan melalui rute Tretes di Pasuruan. Untuk menuju Gunung Arjuno yang paling menantang adalah lewat jalur Kota Batu karena jarang dirambah pendaki sehingga masih terkesan alami. Dari Malang menuju Batu Anda bisa naik angkutan dari Terminal Landungsari atau menyarternya dengan ongkos Rp. 200.000 per mobil angkutan. Saat ini banyak provider petualangan yang menawarkan jelajah alam menuju Arjuno. Di Kota Batu juga sudah ada kelompok pendaki lokal yang menawarkan jasa guiding maupun porter. Salah satu provider menawarkan paket ini untuk dua orang Rp 1.225.000,-/orang, untuk empat orang Rp 710.000,-/orang, dan untuk enam orang Rp 530.000,-/orang.
Dari Kota Batu pendakian Arjuno diawali dari Dusun Junggo, Desa Tulungrejo. Kebanyakan pendaki memilih titik awal dari Pura Arjuna Giri Luhur yang indah. Hamparan perkebunan apel, strawberry, dan berbagai sayuran ada di kanan kiri di kawasan tersebut. Dari pusat Kota Batu, Anda bisa menyewa mikrolet agar bisa diantarkan ke pura tersebut. Jalur menuju pura itu melewati sebuah pabrik tua yang misterius. Saat ini, Pemkot Batu telah memuluskan jalur itu dengan aspal sehingga tidak perlu kendaraan offroad untuk tiba di pura. Jika beruntung, para pendaki akan mendapati sejumlah umat Hindu yang tengah beribadah di pura tersebut. Jalur ini sebenarnya sudah dikenal pendaki bahkan dari luar negeri. Tidak sedikit pendaki dari Malaysia dan Singapura yang menempuh jalur Junggo. Pendakian dari titik ini membutuhkan waktu sekitar tujuh jam untuk tiba di puncak Arjuno.
Masyarakat setempat menganggap bahwa gunung tersebut masih mistis, terutama memasuki kawasan hutan Lalijiwo (dari bahasa Jawa, lali: lupa, jiwo: jiwa). Mitosnya mengatakan bahwa kawasan ini adalah pasar setannya Gunung Arjuno. Lebih baik dihormati saja mitos setempat, agar selamat sampai ke puncak Arjuno. Lalijiwo sendiri melingkar di seluruh pinggang Gunung Arjuno. Selepas Lalijiwo, maka jalur akan menembus dua puncak kecil. Selepas itu, tibalah di puncak Arjuno atau kerap disebut puncak Ogal-agil. Di kawasan yang dipenuhi berupa susunan batu-batu besar, sejumlah edelweis liar tampak tegar menghadap panorama. Dari sini kita dapat menikmati panorama yang sangat indah, dan pada malam hari kita dapat menikmati kerlap-kerlip lampu kota Surabaya, Malang, Batu dan Pasuruan. Angin di puncak sangat kencang dan suhunya antara 5 –10 derajat celcius.
Dari situ biasanya pendaki akan turun menuju ke dekat Gunung Kembar I, melewati Lembah Kijang yang terkenal kemudian ke arah Gunung Welirang. Yang menarik di Arjuno sebenarnya adalah keberadaan situs purbakala. Terdapat sekitar 52 pusat purbakala di lereng Arjuno, di antaranya Goa Onto Boego, Komplek Tampuono, Makam Eyang Abiyoso, Eyang Sekutrem, Eyang Madrem, Goa Nogogini, dan Sendang Dewi Kunti. Bahkan ada juga Komplek Eyang Semar, Mahkutoromo, Sepilar, dan Komplek Candi Jawadipa. Pendek kata, segala macam situs di tempat itu memiliki nama pewayangan dalam cerita Mahabharata.
Jika pendakian melewati jalur Cangar, pertama pendaki bisa mulai di gapura Desa Sumberbrantas. Di sini pendaki bisa mengambil air di masjid atau tempat mandi umum di tepi jalan di dekat gapura untuk persediaan di perjalanan. Untuk menuju titik pendakian, kita harus berjalan kaki melewati rumah-rumah penduduk Desa Sumberbrantas. Setelah itu kita melewati hamparan perkebunan sayur yang menghampar di sepanjang perbukitan. Waktu yang diperlukan untuk mencapai perbatasan vegetasi  ini sekitar 1,5-2 jam. Dari jalur ini merupakan batas antara hutan dengan perkebunan di mana untuk mencapainya kita harus menyusuri jalan utama yang ada di perkebunan tersebut.
Dari titik pendakian, jalan yang kita lalui relatif menanjak dengan vegetasi hutan hujan basah yang  cukup lebat. Kita bisa menjumpai  berbagai  macam bunga anggrek yang tumbuh liar di batang pepohonan, tanaman perdu dengan bunga liar, serta arbai hutan yang tumbuh di sepanjang jalan. Selanjutnya akan dijumpai pertigaan, bila  mengambil jalan lurus akan  menuju Gunung Arjuno, sebaliknya bila mengambil jalan ke kiri akan menuju Gunung Welirang. Pendaki bisa mendirikan camp di sini bila telah menjelang sore, karena  tempatnya yang relatif datar dan tertutup. Waktu yang  dibutuhkan untuk bisa sampai di sini sekitar 3-4 jam.
Jika ingin menuju puncak Gunung Welirang terlebih dahulu membutuhkan waktu lebih kurang 4-5 jam. Dari pertigaan ini jalanan yang ditempuh sangat bervariasi. Dimulai dari hutan heterogen yang relatif rimbun, kita akan menyusuri bibir jurang dengan  bunga-bunga edelweis yang tumbuh liar di seberangnya. Sesekali kita akan melihat elang yang terbang melintas di atas perbukitan. Selain itu  hamparan pegunungan akan terlihat di sini. Setelah menyusuri bibiran jurang  kita akan menemui padang ilalang dengan bebatuan yang ada di sekitarnya. Dari sini kita sudah dapat mencium bau belerang yang terbawa oleh angin. Jika dari puncak Welirang menuju puncak Arjuno akan menjumpai hutan heterogen dan padang rumput. Setelah menempuh sekitar sejam perjalanan akan tiba di Pondok Welirang (Welirangan). Dari sini menuju Lembah Kijang dengan keadaan medan datar dan melewati  padang rumput dengan lama perjalanan 15-20 menit. Di Lembah Kijang terdapat sumber air yang cukup bersih airnya dan kita bisa pula mendirikan camp di sini. Dari Lembah Kijang menuju puncak Gunung Arjuno kondisi medan menanjak dengan melewati sabana dan hutan homogen.
Jika melewati jalur Lawang dimulai dari Terminal Arjosari dengan naik angkutan umum LA dan turun di pasar Lawang. Di sini kita bisa menyiapkan perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah itu perjalanan  dilanjutkan dengan mencarter pick up dan turun di kebun teh pintu sebelah utara. Di sini kita bisa langsung  mengurus perijinan dan melanjutkan perjalanan. Apabila kita ingin menikmati pemandangan alam sambil beristirahat, kita bisa melewati pintu sebelah utara, karena dari pintu sebelah utara bisa langsung masuk Agro wisata kebun teh, yang tersedia penginapan serta fasilitas yang relatif lengkap bagi setiap pengunjungnya. Untuk memasuki tempat ini kita harus membayar kontribusi. Dari pos PHPA ke Pondok Seng II lama perjalanan 2 jam, melewati perkebunan teh. Dari Pondok Seng II menuju Gunung Lincing perjalanan ditempuh sekitar 4 jam, melewati padang rumput dan hutan heterogen dengan kondisi medan yang sangat menanjak. Lalu dari Gunung Lincing menuju puncak Gunung Arjuno lama perjalanan sekitar 6-7 jam melewati hutan Lalijiwo, dan padang rumput yang sangat menanjak sebelum sampai ke puncak. Jika dari puncak Arjuno menuju puncak Welirang lama perjalanan sekitar 5 jam dengan kondisi medan menanjak yang berupa susunan bebatuan yang bertingkat-tingkat. Jalur dari puncak Gunung Welirang ke puncak Gunung  Arjuna atau sebaliknya dapat melewati tiga jalur, yaitu: dari Gunung Welirang menembus puncak Gunung Kembar I, Gunung Kembar II  langsung ke puncak Gunung Arjuna; dari Gunung Welirang, lewat pondok Welirangan, lembah Kijang, lembah Bakal, langsung puncak; dari puncak Welirang  menyisir Gunung Kembar I , Gunung Kembar II, langsung ke puncak.


Sumber :

Minggu, 08 Mei 2016

Kawasan Konservasi Nusa Burung



Nusa Barung atau Nusa Barong, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah administratif Kabupaten Jember. Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudra Hindia dan berbatasan langsung dengan Australia.

Penetapan Sebagai Kawasan Konservasi
Nusa Barung merupakan sebuah kawasan cagar alam yang sudah ditetapkan sejak tahun 1920. Di pulau ini bisa ditemukan beberapa spesies burung, serangga, dan tumbuhan. Fungsi pokok cagar alam ini adalah sebagai perlindungan bagi lutung budeng (Trachypithecus auratus) yang terancam punah. Selain itu, berbagai jenis satwa liar juga terdapat di kawasan Cagar Alam Nusa Barong ini, diantaranya terdiri dari jenis-jenis mamalia, aves dan reptil. Jenis Mamalia yang sering dijumpai yaitu Kera (Macaca fascicularis), Babi hutan (Sus scropa) dan Tupai (Scewius notakas). Jenis-jenis Burung yang ada antara lain Pecuk ular (Antinga rufa), Kuntul (Egrelta sp), Ibis hitam (Plenadis falsinallus), Elang (Elanus sp) dan Burung Rangkong (Aceros undulatus)
Tentang Nusa Barung
Dengan luas 6.100 hektare dan terletak di Samudera Indonesia, Pulau Cagar Alam Pulau Nusa Barong kini mulai menarik perhatian wisatawan. Publik masih belum banyak mengetahui, bahwa Cagar Alam Pulau Nusa Barong adalah cagar alam yang harus dijaga betul dari intervensi manusia. Di dunia maya, sudah ada blogger amatir yang menawarkan Cagar Alam Pulau Nusa Barong sebagai destinasi wisata. Ada pula agensi wisata yang mencoba meminta izin kepada Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Jember untuk menjadikan Cagar Alam Pulau Nusa Barong sebagai bagian paket wisata. “Kami belum bisa menerima tawaran itu,” kata Kepala Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Jember, Jawa Timur, Sunandar Trigunajasa. BKSDA lebih memperhatikan konservasi daripada profit yang bisa diambil dari pulau tersebut. Sunadar menjelaskan, Cagar Alam Pulau Nusa Barong memiliki kekhasan dan keunikan, baik dari sisi flora maupun ekosistem. Ada empat ekosistem di pulau itu, yakni ekosistem pantai, hutan payau, hutan rawa, dan hutan hujan dataran rendah.
Jenis tumbuhan di kawasan Cagar Alam Nusa Barong yang diketahui sebanyak 46 jenis. Beberapa jenis. Beberapa jenis yang mudah dijumpai diantaranya Endog-endogan (Xanthophyiium excelsum), Klampok hutan (Eugenia sp), Bogem (brugeura sp), Kalak (Mitrophora javanica), Laban (Vitex pubesecens), Salakan (Palmae sp).
Kawasan Cagar Alam Nusa Barong ini memiliki panorama alam berupa pantai pasir putih yang terletak dibagian utara. Selain keindahannya, keunikan lain yang bisa terlihat di pantai ini adalah saat Rusa (Cervus timorensis) dan Kera (Macaca Fascicularis) berdatangan untuk bermain dan mencari siput dan ketam.
Rute
Nusa Barung dapat dijangkau dengan perahu dari pelabuhan nelayan Puger; pulau ini berjarak sekitar 4,5 km di arah barat daya Puger. Sementara Puger, yang berada sekitar 35 km di sebelah barat Kota Jember, dapat dicapai dengan menggunakan taksi atau bus antar kota dari Jember atau Surabaya.
Untuk memasuki Nusa Barung, diperlukan izin dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Bidang KSDA Wilayah III Jember.
Sumber :

Jumat, 29 Januari 2016

Kritik Arsitektur (Metode Typical)

 



Rempah Rumah Karya
Architec                                  : Paulus Mintarga
Lokasi                                     : Solo

Banguan Rempah Rumah Karya ini menggunkana sistem Green Building dengan memanfaatkan material bekas konstruksi pada pembangunananya. Bangunan ini memiliki 4 massa bangunan yaitu rumah rempah 1, rumah rempah 2, rumah rempah 3 yang masih dalam pembangunan, dan bangunan servis yang berisi penginapan, dapur dan tempat pemasaran hasil karya.
Analisis Rumah Rempah 1
 
Rumah Rempah 1
Sumber : Data Pribadi

Pada bangunan Rumah Rempah 1 barfungsi sebagai tempat workshop dan kantor pada lantai mezanin tempat ini juga digunakan sebagai galery mabel, bangunan ini merupakan bangunan yang didirikan pertama kali di Rumah Rempah karya.   
Pada bangunan ini hampir 90% bangunannya menggunakan material limbah. Baja bekas profil CNP yang dirangkai menjadi kerangka struktural dua buah bangunan tanpa mengubah dimensi yang ada bervariasi 1,7 m sampai 2 m sehingga terbentuk kurva (loop) berwujud organik.



Struktur Bangunan

Analisis Rumah Rempah 2



Rumah Rempah 2
Sumber : Data Pribadi

Pada bangunan Rumah Rempah 2 ini digunakan sebagai tempat bengkel untuk pembuatan produk, mabel atau furniture. Pada lantai mezanin tidak beda dengan bangunan Rumah Rempah 1 digunakan sebagai tempat galery mabel dan kantor, Kedua massa bangunan disusun berseberangan menghadap ke timur dan barat dengan kolam dan pintu penghubung pada celah antara sisi panjang kedua bangunan, sementara entrance pada sisi muka.


Kolam
Sumber : Data Pribadi

Analisis Rumah Rempah 3



Rumah Rempah 3
Sumber : Data Pribadi

Pada bangunan Rumah Rempah 3 masih dalam renovasi karena bangunan ini baru dibuat, pada lantai dasar digunakan sebagai tempat santai para pegawai. Untuk material lantai pada lantai dasar menggunakan tanah yang berfungsi mereduksi kelembapan sehingga dapat memberikan rasa nyaman untuk bersantai didalamnya dan dapat meminimalisir anggaran biaya bangunan. Pada lantai 2 material lantai menggunakan kaca yang disusun sehingga dapat melihat kelantai dibawahnya.
 



Lantai 2 Bangunan Rumah Rempah 3
Sumber : Data Pribadi

Rumah Rempah 4
 



Tempat Pemasaran Produk, Dapur dan Kamar Mandi
Sumber : Data Pribadi

Pada bangunan Rumah Rempah 4 ini digunakan sebagai tempat penginapan, tempat pemasaran produk, dapur dan kamar mandi, semua hasil karya yang telah dibuat diletakan di tempat pemasaran produk, semua hasil karya di Rumah Rempah ini terbuat dari material limbah.
Pada lantai 2 terdapat kamar penginapan untuk pengunjung yang ingin menginap disini, yang menonjol pada bangunan ini adalah bagian struktur yang menggunakan limbah bambu dan kayu.



             Kamar Penginapan                                                                                    Struktur Bambu
            Sumber : Data Pribadi                                                                      Sumber : Data Pribadi                               

4.1.5 Bangunan Utama 



Ruang Komunal
Sumber : Data Pribadi

Bentuk atap kurva sudah menjadi pilihan dengan menggunakan potongan rangka besi yang pendek-pendek, lalu dibentuk kurva seperti diatas. Untuk pembuatan struktur ini membutuhkan eksperimen dan perhitungan dari beragam alternatif desain. Form follow structure, bentuk bangunan yang kemudian dinamai ‘Rempah Rumah karya’ ini memang mengikuti bentuk struktur yang ada. Atap bangunannya juga berbentuk kurva yang paling optimal memanfaatkan material yang tersedia.
Rangka besi berbentuk payung ini digunakan sebagai tempat pot tanaman yang akan merambat kebawah sehingga dapat menaungi area komunal ini.
Pada area komunal ini juga terdapat kursi dan meja yang terbuat dari besi dan jaring kawat yang di bentuk sedemikian rupa sehingga menjadi kursi dan meja.



Kursi Dan Meja
Sumber : Data Pribadi

Penjelasan Material Limbah Yang Digunakan Pada Rumah Rempah Karya

Penggunaan Material limbah pada Rumah Rempah 1 dan Rumah Rempah 2
1. Struktur



Struktur Rumah Rempah


Struktur yang digunakan pada Rumah Rempah 1 dan Rumah Rempah 2 adalah batang-batang baja CNP yang disusun sesuai dengan bentuk massa bangunan dan pada bagian atap diberi jaring kawat sebagai struktur atap. Besi CNP atau Lipped Channel merupakan salah satu jenis profil besi baja untuk bangunan konstruksi baja yang biasa digunakan sebagai gording atap dan rangka untuk dinding cladding. Ukuran standart besi CNP dari pabrik biasa dalam satuan panjang 6 meter/batang. Biasanya CNP dipasang menggunakan sambungan baut, meski kadang ada juga konstruksi yang menggunkan sambungan las. Pada konstruksi di Rumah Rempah ini menggunakan sambungan las.
2. Struktur Atap
Untuk struktur atap menggunakan jaring kawat sebagai penahan, lalu di atasnya diletakan krepyak (bambu yang diremukan), di atasnya diletakan kantong-kantong semen yang dipoles aspal atau karpet talang sisa proyek, lalu yang terakhir ijuk. Kantong semen terbuat dari kertas lalu di lumuri oleh aspal, kantong semen yang tidak dilumuri dengan baik dapat mengakibatkan bocor sehingga pelumuran harus dilakukan dengan teliti dan merata.


Struktur Atap Dari Dalam
Sumber : Data Pribadi






3. Lantai
 




Bilik atau Gedhek
Sumber : Data Pribadi

Tiang-tiang vertikal penopang lantai dan atap disebut kolom. Tiang-tiang horisontal pemikul lantai dan atap disebut balok. Lantai satu dan dua ditopang oleh kolom baja CNP, pipa besi dan beton cor. Batang baja CNP menjadi kekuatan utama pemikul lantai, di atas balok-balok CNP diletakkan bamboo, di atas bambu adalah styrofoam sheet yang dilapisi jaring kawat dan beton cor serta bilik (anyaman bambu). Bilik atau gedhek diatau anyaman bambu digunakan sebagai keramik/karpet lantai. Jaring kawat kembali menjadi urat dan saraf struktur bangunan ini. Styrofoam sheet dilapisi beton setebal 2 cm untuk dijadikan plat lantai. Semua Plat lantai pada bangunan Rumah Rempah 1 dan Rumah Rempah 2 dibuat tanpa tulangan besi. Pada lantai dasar menggunkan Kramik Tegel atau Kramik yang digunakan oleh Kraton.

4. Fasad Banguan




Fasad Tampak Depan Rumah Rempah 1
Sumber : Data Pribadi


Pada fasad tampak depan bangunan menggunakan kaca dan lempengan besi yang di beri frame sehingga terlihat dinamis. Kaca dan lempengan besi berasal dari limbah lalu di modifikasi seperti Gambar diatas, kaca dan lempengan besi disangkutkan di jaring kawat, jaring kawat dan tiang besi menjadi struktur dari dinding bangunan ini. Penggunaan kaca berfungsi sebagai perantara untuk cahaya masuk.
 


Lempengan Besi
Sumber : Data Pribadi

 
Tampak Samping Rumah Rempah 1
Sumber : Data Pribadi

Pada fasad tampak samping bangunan Rumah Rempah 1  menggunakan krepyak (bambu yang sudah diremukkan) yang di beri frame dari besi, dan diberi kaca sebagai sumber cahya. Semua material fasad pada bangunan ini diikat pada jaring kawat dan tiang besi dibelakangnya.



Tampak Belakang Rumah Rempah 1
Sumber : Data Pribadi

Material sisa potongan kayu, kaca yang diberi frame dan lempengan besi digunakan sebagai fasad belakang, sisa potongan kayu di ikat pada kawat dibelakangnya, sisa potongan kayu lebih dominan pada fasad bagian belakang bangunan. Cara penyusunan potongan kayu diletakan secara acak sehingga bangunan ini terlihat dinamis.

 
Tampak Depan Rumah Rempah 2
Sumber : Data pribadi

Tampak depan fasad Rumah Rempah 2 penggunaan materialnya tidak jauh beda dengan Rumah Rempah 1 hanya saja beda model peletakan material. Untuk fasad tampak depan diberi kaca, lempengan besi yang sudah di beri frame dan sisa potongan kayu, untuk pemasangannya tidak jauh beda dengan Ruamh Remaph 1 dengan mengikat pada jaring kawat yang struktur utama pada dinding.



Fasad Tampak Samping Rumah rempah 2
Sumber : Data Pribadi

Pada fasad tampak samping material yang digunakan adalah sisa potongan kayu yang diikatkan pada jaring kawat. Disini juga terdapat kaca sebagai sumber cahaya.

 5. Furniture Bangunan 



Furniture Tempat Duduk
Sumber : Data Pribadi

Tidak hanya struktur dan material fasad saja yang menggunakan limbah, bagian furniture bangunan ini juga menggunakan material limbah, seperti tempat duduk ini yang terbuat dari tempat cat yang sudah tidak terpakai. Lalu tutup cat digunakan sebagai alas dari tempat duduk ini dan diberi warna.




Funiture
Sumber : Data Pribadi

Karena bangunan Rumah Rempah ini juga berfungsi sebagai tempat karya mabel yang terbuat dari limbah bekas maka banyak karya mebel yang dipajang didalam bangunan ini. Mabel mabel ini terbuat dari limbah bekas lalu didesain sehingga menjadi barang yang memiliki karya yang bernilai tinggi.




Tangga
Sumber : Data pribadi

Tangga sebagai penghubung lantai dasar ke lantai atas juga menggunakan batang besi CNP lalu sambungannya menggunakan las. Hampir 90 % bangunan Rumah Rempah ini menggunakan material limbah sehingga bangunan ini dapat menghemat anggaran biaya dan ramah lingkungan.

6. Struktur Area Komunal
 


Struktur Area Komunal
Sumber : Data Pribadi

Struktur yang berbentuk kurva ini terbuat dari material batang baja CNP lalu di beri pot tanaman rambat, sehingga terlihat seperti pohon. Pot-pot tanaman ini diletakan pada jaring kawat. Pot-pot tanaman ini juga berfungsi sebagai penangkal sinar matahari langsung.


  
Pot Tanaman

Sumber : Data Pribadi