Suatu Proyek Konstruksi yang akan dibangun akan
dibuka proses lelang / tender, dimana pengumumannya akan diumumkan melalui
internet, koran, ataupun rekanan dari owner dan media lainnya. Proses lelang
proyek konstruksi terdiri dari :
1. Pengambilan
Dokumen Lelang
Pengambilan dokumen lelang harus diteliti
kebenarannya dan kelengkapannya dengan merinci dalam tanda terima dokumen
lelang, hal ini penting agar dapat dijadikan sebagai dokumen kontrol pada
proses internal perusahaan.
2. Pembentukan
Team Pelaksana Lelang (TPL)
Pembentukan Tim Pelaksana Lelang sesuai dengan
kebutuhan SDM yang memiliki kopetensi sesuai dengan ketrampilan untuk melakukan
kegiatan estimasi biaya sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
3. Membaca
dan Mempelajari Dokumen Lelang
Dalam proses ini merupakan kegiatan penting dalam
upaya mempelajari dan memahami dokumen proyek sehingga dapat dibuat
catatan-catatan penting yang perlu dikonfirmasikan saat mengikuti penjelasan /
aanwijzing kantor atau lapangan berkaitan dengan dokumen-dokumen sbb :
1. Bill of
Quantity (BQ)
2. Technical
Spesification (Spek Teknis)
3. Drawing
(Gambar)
4. Aggrement,
General & Spesial Condition of Contract (Surat Perjanjian, Spesifikasi Umum
& Khusus)
5.
Attachement (Lampiran)
6. Addendum
7. Peraturan
Terkait
4. Aanwijzing
Kantor & Lapangan
Mengikuti kegiatan aanwijzing merupakan kegiatan
penting untuk mendapatkan kejelasan terhadap hal-hal sebagai berikut :
1.
Kelengkapan Dokumen yang perlu dipenuhi
2. Konfirmasi
hal-hal yang belum jelas agar ada persamaan presepsi dengan pihak panitia /
owner
3.
Usulan-usulan perubahan terhadap spesifikasi, waktu pelaksanaan sehingga
proyek dapat dikerjakan dengan
baik dan tepat waktu
4. Memahami
secara akurat kondisi lapangan yang akan dibangun, yang berkaitan dengan :
a. Kondisi lingkungan proyek (sosial budaya,
medan kerja, dan lainnya)
b. Akses jalan masuk area proyek
c. Kelayakan jalan logistik dan upaya
maintenance/memperbaikinya
d. Keamanan lokasi
e. Kondisi Tanah, dll
5.
Mempelajari Lebih Mendalam Dokumen Lelang
Kegiatan dalam proses ini adalah mendalami lebih
rinci berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesesuaian
BQ dengan gambar, spesifikasi dan dokumen lainnya
2.
Identifikasi lingkup pekerjaan (batasan-batasan dalam paket
pekerjaan/proyek)
Kegiatan ini dilakukan dengan melalui work breakdown
struktur (WBS) sehingga secara akurat dapat
diketahui batasan lingkup pekerjaan yang ada dalam setiap paket proyek
yang terkait dengan :
a. Rincian
Bill of Quantity (BQ) / WBS (Paket pekerjaan)
b.
Perhitungan volume pekerjaan
c. Gambar
Detail / Sketsa
d. Dokumen
untuk pengadaan subkontraktor dan supplier.
WBS adalah pedoman pengelompokan dari unsur-unsur
proyek yang mengatur dan menetapkan lingkup totak dari proyek. Pekerjaan diluar
WBS adalah diluar lingkup proyek, seperti halnya scope statement WBS sering
kali dipergunakan untuk mengembangkan dan menjelaskan pengertian umum dari
lingkup proyek.
6. Survey Lapangan
Detail
Kegiatan ini merupakan kegiatan survey secara
mandalam dokumen lelang seperti diuraikan dalam point 5. Hasil survey ini akan
dipergunakan sebagai referensi metode pelaksanaan pekerjaan, merencanakan site
plan, mengetahui pekerjaan-pekerjaan penunjang yang diperlukan seperti jembatan
sementara, bangunan bantu lainnya, perbaikan jalan akses dll. dalam survey ini
dapat jg untuk mengklarifikasi data-data teknis seperti penyelidikan tanah,
komposisi material di quarry, keberadaan sumberdaya lainnya, seperti alat,
tenaga kerja, material, bahan material alam termasuk biaya untuk mendapatkan
sumber daya tersebut (upah tenaga, harga satuan, dll)
7.
Perhitungan Volume
Kegiatan ini untuk melakukan perhitungan dan
pengecekkan perhitungan volume pekerjaan terhadap volume scope yang ada dalam
BQ dan diperlukan perhitungan volume pekerjaan yang merupakan pekerjaan
penunjang seperti jembatan darurat, jalan akses, dll.
Perhitungan volume ini harus dilakukan secara cermat,
akurat dan tertelusur sesuai dengan WBS yang direncanakan sehingga tidak
terjadi kesalahan kurang perhitungan atau duplikasi perhitungan. Apabila ada
perubahan gambar / spesifikasi maka dengan mudah dapat ditelusuri dengan mudah
perhitungan mana yang diperlukan koreksi/pemyesuaian perhitungan ulang atas
perubahan tersebut.
Bila perhitungan volume ini dihitung oleh banyak
personil harus dapat diidentifikasi siapa melakukan perhitungan, pekerjaan apa
sesuai gambar/spesifikasi yang mana sehingga saat dikonsolidasi dapat
dikompilasi dengan akurat.
8. Metode
Pekerjaan
Merupakan kegiatan perumusan metode pelaksanaan
pekerjaan dengan urutan sbb :
1. Definisi
pekerjaan :
a. Penjelasan tentang pekerjaan
b. Spesifikasi dan volume pekerjaan
2. Lokasi
3. Metode
pekerjaan / Cara kerja
b. Bagaimana caranya
c. Menggunakan alat apa
d. Urutan pekerjaan (dimulai sesudah/setelah
pekerjaan apa)
4. Kebutuhan
sumber daya
5. Waktu yang
diperlukan
6. Jadwal
pelaksanaan
7. Hal-hal penting
yang harus diketahui / diperhatikan
8.
Gambar-gambar kerja/pelaksanaan
9. Pekerjaan
yang dibuat secara detail metode kerjanya adalah yang memiliki kriteria sbb :
a. Pekerjaan yang memiliki bobot besar 80 %
sesuai dengan bobot pareto
b. Pekerjaan yang masuk lintasan kritis, sesuai
hasil network planing
9.
Subkontraktor
Pemilihan pekerjaan yang disubkontraktorkan dilakukan
dalam rangka memenuhi kriteria sbb :
1.
Meningkatkan fokus perusahaan
2.
Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari engineering
3. Membagi
resiko
4. Sumber
daya sendiri dapat dipergunakan untuk kebutuhan lain
5.
Memungkinkan tersedianya dana kapital
6.
Menciptakan dana segar
7. Mengurangi
dan mengendalikan dana operasional
8. Memperoleh
sumberdaya yang tidak dimiliki sendiri
9. Memecahkan
masalah yang sulit dikendalikan / dikelola
Pemilihan subkontraktor/suplier dilakukan dengan
sangat selektif agar tujuan diatas dapat dipenuhi dan pengendalian dokumen
terhadap pekerjaan yang dikerjakan oleh pihak ketiga merupakan hal yang sangat
perlu diperhatikan, karena kesalahan informasi / dokumen akan membuat kesalahan
dalam menentukan asumsi, sumber daya dan harga pekerjaan.
Kegiatan dalam proses procurement pada proses tender
meliputi :
a. Pekerjaan
yang akan disubkontrakkan /renvana pembelian, perencanaan kontrak dan
pembayaran.
b. Pemilian
vendor yang akan dinominasikan
c. Permintaan
penawaran
d. Evaluasi
penawaran termasuk lingkup yang sesuai dengan paket pekerjaan
e. Penentuan
vendor yang akan dipilih sehingga dokumen dari vendor yang akan dipakai
terdokumentasi dengan baik
10.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Proses yang dibutuhkan untuk mengelola dan memastikan
bahwa aktivitas proyek kontruksi yang ditangani dengan benar sebagai bentuk
tindakan pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya kecelakaan secara ringan
(menyebabkan luka-luka ringan atau parah yang masih dapat disembuhkan tanpa
cacat) maupun yang berat (menyebabkan cacat atau meninggal dunia) yang akan
terjadi baik terhadap karyawan / properti yang ada sehingga dengan demikian
proses-proses yang dapat dilakukan adalah :
a.
Perencanaan K3 (Safety Plan)
b. Penanganan
K3
c.
Pelaksanaan administrasi dan pelaporan
11. Pembuatan
Pra Rencana Mutu Proyek
Yang utama dalam kegiatan ini adalah melakukan
hal-hal sebagai berikut :
1. Memahami
spesifikasi setiap pekerjaan dan material yang dipergunakan
2. Memahami
persyaratan mutu yang bersesuaian dengan yang sudah ditetapkan dalam
spesifikasi berkaitan dengan upaya untuk melakukan
pemilihan material dan metode yang memenuhi syarat
3. Dokumen
atas persyaratan yang dipilih menjadi dokumen kontrol dan didukung oleh
data-data yang dapat dipertanggungjawabkan
12. Plafon
Harga Penawaran
Plafon harga penawaran yang didasarkan pada Owner
Estimate (OE) merupakan referensi tetapi tidak menjadi patokan, melainnkan
untuk melakukan evaluasi terhadap harga yang dibentuk dari perhitungan RAB dan
keuntungan proyek.
13. Proses
Komputer
Merupakan perhitungan dengan menggunakan komputer dan
program yang dapat diandalkan penelusurannya sehingga setiap ada perubahan
formulanya terkait satu sama lainnya. File perhitungan dapat menjamin mana data
/ file yang dipakai dan direvisi sehingga mudah ditelusuri bila menggunakan
alternatif- alternatif RAP/RAB.
14. Jaminan
Bank, Referensi Bank dan Syarat Administrasinya
Hasil perhitungan RAP/RAB draft dapat dipakai sebagai
acuan untuk menentukan besaran jaminan pelaksanaan proyek sebagai administrasi
yang harus dipenuhi dan dilampirkan dalam penawaran /bid. Pengurusan jaminan
ini harus memenuhi ketentuan bank dan persyaratan dalam administrasi lelang,
karena dapat menggugurkan penawaran. Pada saat final penawaran besaran jaminan
ini di check kembali apakah sudah sesuai dengan ketentuan / persyaratan lelang
yang berlaku.
15.
Perhitungan Markup
Perhitungan markup harus didasarkan pada beban-beban
yang harus dipenuhi yang menjadi ketentuan kantor pusat, cabang dan proyek dan
termasuk biaoya pemasaran, serta keuntungan bersih yang direncanakan. Markup
harus sudah memperhitungkan terhadap resiko kenaikan harga, dan resiko lainnya
yang diperhitungkan dalam merespon resiko.
16.
Penyususn, pengecekkan dan Pemasukan Penawaran
Tahapan yang penting dalam penyusunan dokumen
penawaran pemenuhan dokumen dan lampiran yang diperlukan dalam setiap dokumen
harus mengikuti peraturan yang berlaku dan menjadi persyaratan administrasi.
Pengendalian dan kesesuaian dokumen perlu dilakukan dengan adanya bukti
pengecekkan berupa check list yang ditandatangani oleh team leader sebagai
bukti telah dilakukan control baik isi dokumen dan kelengkapannya.
17. Laporan
Hasil Lelang / Tender
Laporan ini dibuat dalam rangka melakukan evaluasi
terhadap hasil tender dan alasan-alasan terukur yang menjadi penyebab dan
kegagalan dan serta kekuatan yang menjadi unggulan dalam persaingan, hal ini
dapat menjadi pembelajaran pada lelang/tender yang akan datang.
contoh lelang tender


Tidak ada komentar:
Posting Komentar